deddynoer: Jazz Indonesia & Something About : Dira Yulianti

Persoalan Lama
disadur dari : http://suaramerdeka.com
SETIAP penyelenggaraan Jak Jazz tampaknya selalu melahirkan “sesuatu” yang bisa dicatat. Setidaknya, tanpa sengaja, ada tema tertentu dari acara berskala internasional itu. Misalnya, Jak Jazz 2006 dinyatakan sebagai momentum kebangkitan musikus jazz Indonesia.

Itu ditandai dengan kelahiran muka baru, seperti Edy Sachroni (drum), Barry Likumahuwa (bas), Devian (saksofon), Sadu Rasjidi (bas), Sandy Wiranata (drum), Harry Toledo (bas). Juga beberapa penyanyi, seperti Olive, Sherly O, dan Dira Yulianti.

Jak Jazz 2007 memunculkan momentum kehadiran para “bidadari jazz” dunia, seperti Hiromi (Jepang), Syaharani (Indonesia), dan Monday Michiru (AS). Mereka membawa perubahan pada jazz. Monday, misalnya, tak terpatok pada warna jazz puritan, tetapi lebih ke nu-jazz, babakan baru jazz yang lebih masuk ke berbagai wilayah musik.

Apakah Jak Jazz tahun ini akan melahirkan sesuatu yang bersejarah, sementara Ireng Maulana sebagai penyelenggara terganjal banyak kendala, antara lain soal dana? Tim kurator Jak Jazz pun harus menyiasati keterbatasan dana itu.

“Sejak Jak Jazz 2006, kami bisa mendatangkan penyanyi, tanpa bisa mendatangkan musikus pengiring karena tak ada dana,” kata Idang Rasjidi, anggota tim kurator.

Tengok saja tahun 2006. Bintang sekelas Phil Perry, Selena Jones, dan Carmen Branford terpaksa diiringi musikus Indonesia yang sama. Artinya, bagaimana seorang musikus bisa mengatur waktu mengiringi tiga bintang itu selama Jak Jazz?

“Saya pernah mengiringi Phil Perry dan Selena Jones dalam satu malam di Jak Jazz. Padahal, saya pun harus tampil dengan musikus Indenesia yang lain. Betapa sangat merepotkan,” ujar Harry Toledo, pemain bas yang sedang laris.

Kerepotan yang sama bakal dialami kembali oleh musikus Indonesia, seperti Ireng Maulana, Jeffry Tahalele, Sam Panuwun, Rudy Subekti, atau Sandy Luntungan. Sebab, mereka harus bermain rangkap untuk mengiringi beberapa penyanyi dunia seperti Andree Crouch (AS), Boi Akih (Belanda), dan Lica Lecato (Brasil).

Itu untuk menyebut beberapa penyanyi yang tampil tanpa membawa musikus pengiring. “Hampir tanpa kendala berarti mengiringi penyanyi sebesar mereka. Sebab, sebelumnya manajemen sudah mengirim partitur lagu,” kata Harry.

Pada Jak Jazz tahun ini, musikus Indonesia yang bakal tampil antara lain Syaharani and Queen Fireworks, Tompi dengan Groovology, Malik & Díessential, Elfa’s Singers, Ireng Maulana Brothers, dan Harry Toledo. Mereka tak pernah absen dari Jak Jazz dua tahun lalu.

Rieka Roeslan dan DíTrubadours yang selama Jak Jazz tak pernah absen, sampai awal November belum dicatat. “Saya belum dihubungi. Mungkin panitia punya kriteria berbeda dari tahun-tahun lalu. Mungkin saya nggak ikut tampil,” kata Rieka Roeslan, pekan lalu di Semarang, saat tampil bersama DíTrubadours.

Tahun lalu, band itu tampil memikat di Jak Jazz. Bahkan pentolan grup Inggris Incognito Bluey Maunick pun menonton. Apakah ketidakhadiran Rieka Roeslan bakal mengurangi minat calon penonton untuk memenuhi Istora Senayan?

Incognito and Dira Yulianti

Jazz memang bisa saja merasuki banyak jenis musik, sebut saja pop jazz, rock jazz, hip hop jazz, soul jazz, bahkan dangdut jazz yang dulu pernah dipopulerkan Trakeba, kolaborasi antara Indra Lesmana dan Camelia Malik beberapa tahun lalu. Hal ini juga yang persis terjadi pada perhelatan festival musik jazz tahunan, Dji Sam Soe Jakarta International Java Jazz Festival.

Sama halnya yang terjadi dengan grup musik asal United Kingdom, Incognito. Yang berhasil memadukan jazz dengan soul, funk, fusion dan elektronika. Walau sudah seringkali tampil di Indonesia, masih saja banyak penggemar setianya yang setia antri berlama-lama menunggu penampilan mereka. Corak musik Acid Jazz -seperti juga yang disebut Jean Paul Maunick a.k.a Bluey, sang gitaris- sangat disukai pengunjung festival ini. Penampilannya membuka panggung Plenary Hall pada hari pertama (07/03) (menggantikan Matt Bianco yang batal hadir) juga hari ketiga menutup Plenary Hall tidak pernah sepi penunjung, semua asik menyimak sambil bergoyang mengikuti irama hentakan musik yang identik dengan beat drum yang stabil dan rhythm gitar Bluey yang cepat.

Memang tidak bisa begitu saja melupakan keunikan personel-personel yang lain. Karena semua personel yang berada dibelakang masing-masing instrumennya juga menyumbangkan suara yang tidak kalah bagusnya. Keyboard Matt Cooper yang seringkali mengejutkan dan mengeluarkan suara-suara yang tidak biasa juga tentunya rentetan brass section yang senantiasa pas mengisi pada setiap momennya. Suara Maysa Leak, yang tebal, berat dan bertenaga hadir mengimbangi peraduan instrumen yang ada, tidak kalah juga vocal Tony Monrelle, Imaani dan Jocelyn Brown. Hal yang istimewa terjadi kali ini, karena sepanjang penampilannya, Bluey mengajak vokalis wanita asal Bandung ‘Dira Yulianti’ untuk ikut bernyanyi tentunya disamping ketiga vokalis fenomenal Incognito lainnya.

Malam terakhir menutup panggung Plenary Hall itu (09/03), Incognito membukanya dengan lagu ‘Deep Water’, dengan tempo dan beat yang slow, tapi tetap tidak membuat penonton berdiam diri menikmati alunan lagu. Lalu Dira muncul dan beradu vocal dengan Maysa Leak dalam lagu ‘Talking Loud’. Walau terdengar tidak sekuat Maysa, namun applauses penonton tetap terdengar riuh terlebih disaat Dira melantunkan vocalnya. Dilanjutkan dengan beberapa lagu diantaranya, ‘Nights over Egypts’, ‘Dont you worry bout a thing’, ‘Everyday’ dan diakhiri dengan hits yang paling populer ‘Still a friend of mine’.

Beberapa kali juga Bluey mengajak penonton untuk ikut bernyanyi bersama-sama disela lagunya. Puncaknya pada lagu terakhir, ketika ia membagi penonton menjadi dua bagian, A dan B. Bagian A melantunkan irama rhythm, sedang yang B menyanyikan refrain ‘still a friend of mine’. Mungkin bagian inilah yang akan membekas dihati para pecinta Incognito…


Dira Yulianti
Profile :
[notes from me: “she is a nice girl with the high talent… and I have heard that right now she preparing a new album.. please be passion and buy the album ASAP, I guarantee that you’ll never dissapointed” ]

Born in Bandung, Indonesia on July 29th, 1979. At the age of 9, Dira Yulianti won the second prize of children singing competition. After she graduated from high school she took her first vocal lesson at Elfa Music Studio. She studied there for three years.
She began her career as a singer as well as a student at the Music Department of Pelita Harapan, majoring vocal performance.
In 2006 Dira Yulianti earned her Bachelor Degree. She has performed in several places with many groups and local musicians such as: SOULMATE, Maestro Big Band, Rieka Roslan, SOVA, Imam Praz Quartet, ARAB Jazz, Pelita Harapan University Big Band, and many more.
And also foreign musicians: INCOGNITO (2002) in Bandung, Surabaya, Makasar, Medan (2006) in Bali, Singapore, Jakarta Keith Martin (2005) in Bandung YELLOWJACKETS(2006) in Jakarta and Bandung She has also performed at several jazz events like Java Jazz Festivals, Bali Jazz and Jakjazz. Right now she’s recording her first solo album with Bluey from INCOGNITO as the album’s producer which will be released this year. She’s also involved in a project called World Peace Orchestra with musicians from around the world such as Dwiki Dharmawan, Walfredo Reyes Jr, Roger Burns, Steve Thorton, Andy Suzuki and Tollak Olstad.
(disadur dari: Dira’s Blog)

Explore posts in the same categories: Tentang Musik

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: